MAU PESAN TIKET? KLIK AJA

Kamis, 30 September 2010

CADAS PANGERAN SUMEDANG ANTARA KETEGANGAN DAN SEJARAH




Bagi yang suka jalan jalan dan senang dengan ketegangan dan sejarah, daerah Cadas Pangeran, jalur dari Bandung menuju Sumedang adalah pilihan terbaik. Karena jalan ini mempunyai sejarah panjang. Namun disisi lain jalur ini penuh dengan ketegangan. Bagaimana tidak, di jalur ini penuh dengan tikungan tajam, dan lebar jalan hanya bisa menampung dua kendaraan yang melintas untuk arah yang berlawanan.Di beberapa ruas jalan di jalur ini bergelombang, akibatnya kendaraan harus mengurangi kecepatannya. Bahkan untuk jalan menikung dsarankan menyalakan lampu depan, karena memang lampu ini diperuntukan agar pengemudi baik mobil dan motor dapat melihat kendaraan dari arah yang berlawanan. Bila musim hujan, daerah ini terkenal dengan daerah yang licin, apalagi disebelah sisinya jurang yang cukup menganga. Selain itu, karena merupakan kawasan tebing berbatu, jalur tersebut minim traffic sign sebagai pemberitahuan hambatan yang mungkin terjadi di Cadas Pangeran. Misalnya adanya penebangan pohon atau jatuhnya material dari bukit. Seperti yag terjadi bulan Mei 2010 lalu, longsor terjadi di kawasan jalan Cadas Pangeran. Akibatnya jalur Bandung- Sumedang macet total. Dan ribuan kendaaan terjeban antrean panjang.Namun bagi pengendara yang senang dengan ketegangan, justru Cadas pangeran menjadi tantangan. Karena penuh dengan perhitungan dalam menyalip kendaraan dari arah yang berlawanan. Sedikit salah perhitungan, bisa runyam. Bahkan mencelakakan diri sendiri. Jalan ini merupakan jalur tercepat jika ingin ke Sumedang dan beberapa daerah lain, dengan melalui jalur ini perjalanan Bandung ke Sumedang hanya memakan waktu sekitar 2 jam, namun jika melalui jalur alternatif bisa mencapai 4- 5 jam.

Protes
Meskipun jalan Cadas Pangeran yang dilalui kendaraan sekarang merupakan jalure baru dan pengembangan dari jalur lamaa, namun tetap saja Cadas Pangeran merupakan sebuah sejarah panjang.Jalan di Cadas Pangeran itu merupakan jalan raya pos yang dibangun atas ambisi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendles (1808-1811).Cadas pangeran ini sebenarnya sebuah protes dari kekejaman dan ambisi Gubernur Jendral Herman Willem Daendels yang membangun jalan dari Anyer ke Panarukan.Bupati Sumedang waktu itu Pangeran Kusumadinata IX tak tega melihat rakyatnya diperlakukan semena-mena oleh Belanda. Dalam satu pertemuan, Pangeran Kusumahdinata sengaja menyambut jabat tangan sang Gubernur dengan menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan sang pangeran siap mencabut keris pusaka.Sebagai tanda perlawanan sang pangeran terhadap pemerintah Hindia Belanda. Tindakan tersebut membuat Daendels justru merasa salut atas keberanian sang pangeran. Bahkan kemudian, sang pangeran diberi pangkat sebagai Kolonel. Namun, rakyat awam kemudian menyebutnya dengan panggilan "Pangeran Kolonel".Peristiwa itulah yang kemudian diabadikan menjadi nama jalan tersebut, yakni jalan Cadas Pangeran.Nah ketika memasuki jalur Cadas Pangeran akan terlihat patung yang menggambarkan adegan salaman antara Daendels dan Pangeran Kusumahdinata. Jadi, Cadas Pangeran bukan sekadar jalan yang penuh dengan ketegangan tapi juga sebuah sejarah panjang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar