MAU PESAN TIKET? KLIK AJA

Selasa, 31 Agustus 2010

CIKOPO DAN NAGREG JADI TITIK PENGATURAN ARUS LEBARAN




Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) mengaku telah membuat
sejumlah strategi khusus untuk mengatur arus lalu-lintas selama musim
mudik lebaran mendatang. Titik strategi tersebut akan dilakukan di dua
tempat yakni mulut tol Cikopo, Puwarkarta dan Nagreg, Bandung.
Demikian dikatakan Kepala Polda Jabar, Inspektur Jendral Sutarman,
”Selama musim mudik nanti saya akan berada di Cikopo untuk memantau perkembangan arus dan memberikan arahan kepada anggota,” kata Kapolda yang menyebut akan berada di Cikopo saat musim mudik nanti untuk menggantikan peranan Polwil yang kini telah dilikuidasi.

Dikatakan Kapolda, strategi pertama arus kendaraan akan diarahkan ke jalur Pantura selama jalur tersebut lancar dan terkendali. Namun, jika Pantura padat atau dilanda kemacetan, kendaraan akan dialihkan melaui jalur tengah yakni dari Cikopo menuju arah Sadang-Subang-Cikamurang hingga masuk ke daerah Cijelag, Kab. Majalengka. Kemungkinan lain, kata Kapolda, kendaraan diarahkan melalui jalur Selatan yakni masuk tol Cipularang dan masuk ke Nagreg menuju Tasik dan masuk Jawa Tengah melalui Cilacap.

Jalur selatan lainnya yang bisa digunakan adalah melalui tol Jagorawi ke luar di mulut tol Ciawi-Cisarua-Cianjur dan masuk tol Cipularang di Padalarang. Padaakhirnya arus kendaraan melalui jalur Selatan akan masuk melalui Nagreg. Untuk itu akan diterrjunkan 21 ribu personel yang ditempatkan di jalur Pantura, Tengah dan Selatan, disamping pasukan bermotor untuk membantu pengaturan arus lalu-lintas. (PR)

LINGKAR NAGREG BISA DIGUNAKAN KENDARAAN KECIL




Jalur Lingkar Nagreg kemungkinan besar bisa digunakan mulai H-10 Lebaran tahun ini. Akan tetapi, jalur ini hanya akan dibuka bagi lalu lintas satu arah dari Garut-Tasikmalaya ke Bandung atau sebaliknya, dan diperuntukan bagi kendaraan ringan.

Hal tersebut terungkap dalam kunjungan kerja Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Perhubungan Freddy Numberi ke jalur Lingkar Nagreg, Kec. Nagreg, Kab. Bandung,

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, pembukaan jalur lingkar Nagreg bagi kendaraan ringan dilakukan untuk menjaga keselamatan. "Itu untuk uji coba tonase, yang penting bisa dilalui dulu," katanya.

Tiga pekan lalu saat meninjau jalur Lingkar Nagreg, Djoko mengaku pesimis jika jalur ini bisa dilalui pada arus mudik dan balik tahun ini. "Tapi ternyata bisa, dan saya yakin dalam waktu tiga hingga empat hari lagi sudah bisa dilewati kendaraan ringan," ucapnya. (PR)

Jumat, 27 Agustus 2010

BIAR AMAN DAN NYAMAN MUDIK, IKUTI KIAT INI




Lebaran sebentar lagi ,berarti sebentar mudik. Bisa ketemu keluarga, ketemu teman-teman lama, bahkan bisa ketemu pacar lama. Namun harus diingat niat mudik adalah untuk silahturahmi, bukan pamer kekayaan,pamer handphone baru, apalagi pamer pacar baru. Dengan niat silahturahmi, akan membawa kebahagiaan sendiri. Bahagia karena semua kumpul dan berbagi cerita.Nah, bagi mereka yang pulang mudik, harus siap segalanya mulai fisik hingga finansial. Artinya harus bisa menikmati perjalanan dengan senang hati, walau kondisi tidak memungkinkan. Misalnya macet, penuh sesak. Berbahagilan jika pulang mudik bisa tersenyum.
Saya mau sedikit kasih kiat, agar musik bisa aman dan nyaman..
Untuk tahapan dimulai beberapa hal
1. Finansial, ini yang salah satu terpenting, he, he.Harus siap siap uang selama perjalanan, mulai uang makan, uang bensin hingga uang parkir.Bawa uang yang cukup. Anggapan nanti ambil di ATM hilangkan karena belum tentu menemukan ATM dengan mudah.Pokoknya yang ini harus betul betul disiapkan, jangan sampai nanti pulang dari mudik gak punya uang lagi. Cuma menghitung hari gajian.

2. Komunikasi. Ini juga yang terpenting. Dengan memberi tahu kapan jadwal mudik, ini berarti sanak famili di kampung sudah siap siap menyambut kita, siapa tahu disediakan makanan yang nikmat atau yang lain lagi.Jangan bilang : ” Kami akan memuat kejutan kok, jadi nggak perlu memberitahu “. Anda akan terkejut sendiri manakala orang yang akan diberi kejutan ternyata tidak berada dirumah karena sedang mudik atau bepergian ke tempat lain. Lebih mlongo lagi jika mereka justeru sedang dalam perjalanan kerumah anda.

3.Rumah. Oh ya rumah atau kontrakan (kalau kontrak di jakarta, he, he) aman ditinggal selama beberapa hari untuk mudik.Kalau perlu bilang sama pak hansip, tolong jagain rumah mau ditinggal beberapa hari. Tentu saja sedikit diberi uang jaga biar semangat jaganya , he, he.

4. Waktu. Ini harus diingat kapan berangkat mudik dan dan kapan balik ke Jakarta lagi. Biasanya kalau sudah mudik lupa waktu. Akibatnya bolos kuliah atau bolos kerja. Karena tahun ini cuti bersama hanya diberi waktu 4 hari mulai tanggal 10 September - hingga tanggal 13 september 2010, dan mulai kerja lagi tanggal 14 september 2010.Karena itu harus dihitung perjalanan mudik dan kembali ke Jakarta.

5. Kondisi. Kondisi badan harus sehat, jangan sampai pulang kampung lalu loyo dan tak bisa kembali ke Jakarta. Begitupula balik ke jakarta atau tempat kerja mulai loyo atau sakit karena kecapekan.

6. Cek kendaraan, bagi yang bawa mobil atau motor unttuk mudik. Bagi yang naik kendaran umum seperti bus atau kereta api juga harus dicek tiket . Yang ini jangan sampai ketinggalan nanti gak bisa pulang ke jakarta

GURINDAM DUA BELAS DARI PULAU MASKAWIN




Pulau Maskawin yang juga lazim disebut Pulau Penyengat merupakan pulau kecil di Kepulauan Riau. Tepatnya di sebelah barat Kota Tanjung Pinang yang ada di Pulau Bintan. Di pulau seluas 2 kilometer persegi itu, setiap sudut jalan dihiasi Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.

Gurindam Dua Belas adalah sajak dua belas pasal (kuplet) karya Raja Ali Haji, sastrawan dan pahlawan nasional dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau, yang mengandung petuah bijak atau nasihat. Raja Ali Haji pun ulama dan pujangga kelahiran 1808, yang meninggal pada usia 65 tahun, dan dimakamkan di Pulau Maskawin.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 089/TK/2004, Raja Ali Haji ditetapkan sebagai pahlawan nasional bidang bahasa Indonesia.

Untuk mencapai Pulau Maskawin, pengunjung harus melalui perjalanan laut dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Pulau Bintan dengan perahu motor yang disebut pompong. Lama perjalanan sekitar 15 menit dengan tarif Rp 20.000 per orang.

Pulau berpenduduk 1.000 jiwa itu disebut Maskawin karena merupakan maskawin Sultan Mahmudsyah, raja kedelapan Kesultanan Riau Lingga, saat ia mempersunting Engku Putri Raja Hamidah. Namun, tak ada catatan mengenai hari pernikahan mereka.

Selain dikenal sebagai Pulau Maskawin, masyarakat juga menyebutnya Pulau Penyengat. Ini karena dulu beberapa nelayan yang hendak mengambil air tawar di pulau tersebut pernah disengat lebah atau tawon.

Obyek wisata

Sesampai di Pulau Maskawin, belasan ojek sepeda motor beroda tiga biasanya sudah menunggu pelancong. Sewa bemor—demikian sebutan ojek itu—sekitar Rp 20.000 per jam.

Dengan luas yang 2 kilometer persegi itu, pelancong tak butuh banyak waktu untuk berkeliling. Begitu keluar dari pelabuhan, akan terlihat Masjid Sultan Riau atau Masjid Kuning, satu-satunya masjid di Pulau Maskawin yang didirikan tahun 1832. Konon, perekat batu bata pada bangunan masjid itu adalah putih telur ayam kampung.

Ada 17 menara besar dan kecil di kompleks masjid yang menunjukkan jumlah rakaat shalat lima waktu. Selain itu, di dalam masjid juga dipajang Al Quran, tulisan tangan Abdurrahman Stambul. Ia adalah penduduk asli Pulau Maskawin yang diminta oleh pihak kerajaan untuk belajar agama ke Mesir. Tulisan tangan itu dibuat tahun 1867.

Menurut bilal (orang yang mengumandangkan azan saat waktu shalat tiba) di masjid tersebut, Abdul Karim (80), Abdurrahman membuat tulisan itu di sela-sela mengajar ilmu agama kepada murid-muridnya. ”Sebenarnya ada tiga Al Quran yang ia tulis dengan tangan, tetapi dua di antaranya sudah lapuk dimakan usia,” ujarnya.

Jika melanjutkan perjalanan, maka kita akan menemukan sudut-sudut jalan dihiasi papan kayu berisi pasal-pasal Gurindam Dua Belas. Di persimpangan jalan di depan Masjid Kuning, misalnya, terpampang cuplikan pasal pertama Gurindam Dua Belas. Bunyinya seperti ini:

”Barang siapa tiada memegang agama/Segala-gala tiada boleh dibilang nama/Barang siapa mengenal yang empat/Maka yaitulah orang yang ma’rifat/Barang siapa mengenal Allah/Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah/Barang siapa mengenal diri/Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri/Barang siapa mengenal dunia/Tahulah ia barang yang terpedaya/Barang siapa mengenal akhirat/Tahulah ia dunia mudharat.”

Sekitar lima menit perjalanan dengan bemor dari Masjid Kuning, terdapat kompleks pemakaman pejabat Kesultanan Riau Lingga. Makam utama yang berada di kompleks ini adalah Engku Putri Raja Hamidah yang wafat pada 12 Juli 1844, Raja Ahmad (penasihat kerajaan), Raja Ali Haji (pujangga kerajaan), serta Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau Lingga IX dan permaisurinya, Raja Aisyah. Selain itu, ada juga puluhan makam keluarga kerajaan beserta pengikutnya.

Selain kompleks makam bersejarah, di Pulau Maskawin juga terdapat balai adat yang menjadi tempat pertemuan atau musyawarah pejabat kerajaan.

Pulau Maskawin bisa dibilang merupakan obyek wisata alternatif di Pulau Bintan. Meski demikian, tempatnya cukup mengasyikkan. (kompas)

Selasa, 24 Agustus 2010

PULAU RONDO, PULAU BERBATASAN YANG TIDAK BERPENGHUNI




Tahukan pulau apa yang paling terbarat di Indonesia? Pulau ini namanya pulau Rondo.Memang nama pulau ini kurang familiar, karena memang tidak banyak dipublikasikan maupun diketahui banyak orang. Walaupun pulau ini jaraknya hanya beberapa mil dari pulau Weh, yang ibukotanya Sabang.Kalau nama Sabang sendiri mungkin sangat akrab, karena Sabang selain dikenal sebagai kota Titik Nol, juga sering dikaitkan sebagai lagu kebangsaan yang berjudul dari Sabang sampai Merauke
Lagu ciptaan R Suhardjo memang menceritakan betapa besarnya dan luasnya Indonesia. Meskipun terdiri dari banyak pulau namun tetap bersatu. Nah, sekarang ceritanya kembali ke Pulau Rondo. Pulau ini luasnya hanya sekitar 4 km persegi, memiliki pantai yang curam serta pembentuk pantai berupa batu dan karang.Tapi di beberapa bagian pulau ini ada pantai yang landai.Karena sekelilingnya didominasi batu karang, menyulitkan kapal atau perahu untuk berlabuh. Selain itu kawasan Pulau Rondo ini termasuk pertemuan arus laut , maka Pulau yang mempunyai keliling 2,5 kilometer ini tak bisa dikunjungi sewaktu-waktu. Akibatnya pulau ini tak berpenghuni.
Karena letaknya sangat strategis dan sebagai pulau terluar yang sangat dekat dengan Kepulauan Nikobar, pulau berbatasan milik India, maka dipulau ini dibangun mercusuar dan dijaga oleh puluhan TNI Angkatan Laut.

Burung dan fauna lainnya

Karena tidak berpenghuni, pulau ini banyak dihuni pelbagai burung mulai dari burung gagak, camat dan burung-buruing lainnya. Bahkan dalam beberapa waktu tertentu ada biawak dan ular melintas bagian tepi pulau ini. Kalaupun ada yang tinggal di pualu ini hanyalah sebagai tempat singgah, karena perubagan cuaca. Dan konon kabarnya, karena tidak berpenghuni, bangunan tanda titik nol dipindahkan ke Pulau Weh, dan letaknya hanya satu jam dari Sabang, ibukota pulau Weh,
Bagaimanapun bentuknya, pulau terluar seperti Pulau Rondo harus dijaga agar tidak terlepas dari Indonesia. (Daripelbagai sumber)

WEH, SABANG DAN RUBIAH




Tak banyak literatur yang bisa diperoleh untuk menjelaskan asal-usul Kota Sabang. Legenda yang beredar di masyarakat Sabang, yang terletak di Pulau Weh, pulau itu dulunya bersatu dengan daratan Sumatera. Namun, akibat gempa bumi, ribuan bahkan belasan ribu tahun lampau, pulau ini terpisah dengan daratan. Begitu juga dengan pulau-pulau di sekitarnya.

M Nur Syafarie (59), warga Kota Sabang, mengaku pernah mendengar legenda itu. Dia setengah percaya, setengah tidak.

Legenda tersebut menceritakan putri cantik jelita yang mendiami pulau ini—yang merupakan bagian dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam—meminta kepada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini bisa ditanami. Untuk itu, dia membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut.

Kemudian terbentuklah danau yang lalu diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas lebih kurang 30 hektar itu hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang meski ketinggian airnya terus menyusut.

Setelah keinginannya terpenuhi, sang putri menceburkan diri ke laut.

Meski tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan sang putri agar Sabang menjadi daerah yang subur dan indah setidaknya tecermin dari adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang. Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan kepada masyarakat.

Asal Sabang

Nama Sabang sendiri, sepengetahuan Nur, berasal dari bahasa Aceh ”saban”, yang berarti sama rata atau tanpa diskriminasi. Kata itu berangkat dari karakter orang Sabang yang cenderung mudah menerima pendatang atau pengunjung. Karakter ini agak berbeda dengan karakter orang Aceh umumnya yang cenderung tertutup terhadap orang yang baru mereka kenal.

”Mungkin karena lama terlibat konflik sehingga banyak orang Aceh yang memilih tertutup,” kata Djafar (45), warga Sabang.

Versi lain menyebutkan bahwa nama Sabang berasal dari bahasa Arab ”shabag”, yang berarti gunung meletus.

Penamaan Sabang diduga berangkat dari banyaknya gunung berapi di Sabang yang bekasnya bisa dilihat di obyek wisata air panas Jaboi. Saat ini obyek wisata tersebut tidak lagi menyisakan air panas. Tapi, sisa-sisa belerang di sana menguatkan bahwa pernah ada gunung berapi di sana.

Pulau Weh atau Sabang telah dikenal dunia sejak awal abad ke-15. Penjelajah asal China, Cheng Ho, pernah singgah di sana tahun 1413-1415.

Catatan Ma Huan, salah satu penerjemah Cheng Ho, menjelaskan bahwa di sebelah barat laut dari Aceh terdapat daratan dengan gunung menjulang, yang dia beri nama Gunung Mao. Di sana terdapat sekitar 30 keluarga.

Dalam bukunya Ying Yai Sheng Lan yang kemudian diterjemahkan menjadi The Overall Survey of The Ocean’s Shores, Ma Huan menceritakan bahwa daratan itu menjadi salah satu tempat persinggahan para saudagar dari berbagai negara.

Gunung Mao yang tampak mencolok dari lautan itu menjadi suar atau petanda bagi para saudagar. Sabang sendiri merupakan penghasil kayu laka terbaik serta penghasil bunga teratai.

”Banyak sejarawan menegaskan bahwa yang dimaksud Gunung Mao itu adalah Pulau Weh,” ujar peneliti dari Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Erond L Damanik.

Erond juga menduga bahwa Sabang saat itu menjadi salah satu bagian dari jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia sampai China Selatan pada abad ke-12 sampai ke-15. Thailand, Sri Lanka, dan India termasuk di dalamnya.

Pulau Weh sendiri merupakan daerah perbatasan Indonesia dengan India dan Thailand.

Melihat catatan sejarah itu, Erond tidak heran jika kemudian di Sabang berdiri pelabuhan bebas. Sebab, lalu lintas perdagangan antarnegara telah berlangsung di Sabang sejak lama.

Sebelum Perang Dunia II, Sabang menjadi salah satu kota pelabuhan penting, bahkan lebih penting daripada Singapura (Temasek). Pelabuhan bebas Sabang telah berjalan sejak tahun 1895. Posisi Sabang semakin strategis saat Indonesia membentuk kerja sama ekonomi regional dengan Malaysia dan Thailand pada 1985.

Awal Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas. Barang-barang yang diimpor lewat Sabang bebas pajak. Mobil-mobil mewah asal Singapura dijual murah di kota itu.

Namun, ketika Aceh ditetapkan sebagai daerah operasi militer, aktivitas Sabang sebagai pelabuhan bebas terhenti.

Aktivitas pelabuhan bebas makin sepi dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 610/MPP/Kep/ 10/2004 tentang Perubahan atas Keputusan Menperindag Nomor 756/MPP/Kep/12/2003 tentang Impor Barang Modal Bukan Baru. Tak boleh lagi ada barang bekas yang boleh masuk dari seluruh daerah perbatasan Indonesia, termasuk Sabang.

Rubiah

Di kepulauan itu, selain Sabang, ada pula Rubiah. Letaknya tepat di depan Iboih, sekitar 20 kilometer sebelah barat Kota Sabang. Untuk mencapai kawasan tersebut tersedia angkutan umum dari Pelabuhan Balohan.

Sama seperti Sabang, tidak banyak literatur tertulis yang bisa diperoleh mengenai keberadaan pulau ini. Legenda mengenai Rubiah menyatu dengan Sabang.

Pergi ke Iboih akan sangat kurang jika kita tidak mengunjungi Rubiah karena sebagian besar taman laut berada di sekitar kawasan pulau itu.

Berjalan ke pulau tersebut kita akan mendapati beberapa bungalow yang pernah dihuni sejumlah pelaku perdamaian Aceh-Pemerintah Indonesia.

Sedikit ke bagian tengah pulau, kita akan mendapati bangunan yang mirip dengan pusat kesehatan masyarakat. Selidik punya selidik, bangunan rumah yang baru direnovasi itu ternyata bekas rumah karantina calon haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Bangunan yang baru direnovasi itu terkesan tidak terawat. Sekelilingnya tumbuh rerumputan setinggi pinggang orang dewasa. Bagian belakang bangunan utama, yang terdiri dari empat kamar mandi, dibiarkan berlumut. Beberapa kelelawar menjadikannya rumah pada siang hari. Tampak sekali bahwa bangunan tersebut tidak pernah dimanfaatkan lagi.

Saliza Mohammadar, pemilik Iboih Inn, kaget melihat foto-foto bangunan itu. Meski sudah lebih dari dua tahun tinggal di Iboih, dia mengaku belum pernah melihat bangunan itu. ”Bila dimanfaatkan dengan baik, dijadikan galeri untuk pameran foto zaman dulu, akan sangat bagus. Pengunjung pasti banyak yang tertarik,” ujarnya bersemangat.(kompas)

MENEMUKAN DAMAI DI SABANG




Ujung langit yang bersentuhan dengan laut itu hanya menyisakan semburat jingga, tanda hari berganti malam di Pantai Kasih. Kumandang azan lantang terdengar dari ujung negeri yang sunyi dan damai ini.

Mampir dulu saja ke rumah saya, sudah malam. Menginap di mana?” tanya perempuan yang mengenalkan diri bernama Rusmi (49). Kami memilih meneruskan perjalanan karena penginapan hanya berjarak 300 meter dari Pantai Kasih, Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Sikap Rusmi itu adalah cermin keramahan warga Sabang pada umumnya. Mereka hafal betul siapa warga pendatang, siapa warga Sabang asli. ”Penduduk Sabang hanya 27.000 orang. Kalau ada orang asing, kami tahu betul,” kata Habsa (43), warga Desa Ie Meulee, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang.

Keonaran atau kriminalitas di Desa Ie Meulee, ujung timur Sabang, akan sampai Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, ujung satunya barat, hanya dalam hitungan menit. Makanya warga Sabang biasa membiarkan sepeda motor atau mobil parkir di jalan dengan kunci menempel.

Data Badan Pusat Statistik Kota Sabang tahun 2008 mencatat, hanya terjadi lima pencurian tahun itu.

Keramahan dan kenyamanan Kota Sabang itulah yang membuat Luca Aldrovandi jatuh hati. Laki-laki asal Italia itu menikah dengan Eva, gadis Kota Sabang, dan menetap di sana. ”Udaranya bersih, pemandangannya indah. Sangat cocok untuk membesarkan dia,” kata Luca sambil membelai Salsabila Aldrovandi (8 bulan), anak semata wayangnya. Itu pula yang memikat Marwan Nasution (69) untuk menghabiskan masa tuanya di Sabang, juga Teuku Syahrul (63), pemilik sebuah losmen.

Tenang

Sabang kita kenal sejak taman kanak-kanak melalui lagu ”Dari Sabang sampai Merauke” ciptaan R Suharjo. Lewat lagu itu, kita bisa membayangkan batas dan ujung negeri kita. Tugu Kilometer 0 (baca: nol) penanda awal pengukuran jarak dan luas Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Setiap pengunjung berhak mendapatkan sertifikat bahwa dia telah berkunjung ke Tugu Kilometer 0 dengan mengganti biaya administrasi Rp 20.000 per sertifikat.

Terdiri dari Kecamatan Sukajaya dan Sukakarya, Sabang dikelilingi Selat Malaka di sebelah utara dan timur serta Samudra Indonesia di sebelah selatan dan barat. Luas daratannya tak lebih dari 153 kilometer persegi dengan topografi berbukit-bukit. Beberapa pulau kecil mengelilinginya: Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo.

Mencapai Sabang bisa melalui Banda Aceh dengan mengendarai feri atau kapal cepat dengan waktu tempuh satu sampai dua jam. Dulu bisa dicapai langsung dari Medan, dengan pesawat terbang. Sekarang tak ada lagi penerbangan langsung.

Sekejap menjejakkan kaki di Pelabuhan Balohan, Sabang, belasan sopir angkutan umum hingga pramuwisata berebut menawarkan jasa. Untuk keliling Kota Sabang, mobil sewaan ditawarkan dengan tarif Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per hari. Di kota, tidak ada angkutan umum. Hanya becak motor bertarif Rp 5.000 atau Rp 10.000 antartujuan. Apabila menyewa seharian, tarifnya Rp 100.000 hingga Rp 150.000.

Pertokoan dan tempat usaha buka sejak subuh hingga sekitar pukul 13.00. Pukul 13.00-18.00 semuanya tutup karena tradisi tidur siang. Toko, warung, dan tempat usaha buka lagi pukul 18.00-23.00. Lepas pukul 23.00, Sabang sunyi lagi.

Tradisi nasionalisme

Sejarah Sabang pernah ditulis Teuku Sulaiman bin Teuku Djohan Balohan, generasi keempat hulubalang Sabang, dalam Teuku Po Miruk Abdul Wahid (Panglima Pulau Weh-Balohan). Diuraikan, pada masa Sultan Alaiddin Mansursyah, Sabang dikenal sebagai salah satu penghasil lada terbesar di Indonesia.

Para seunebok (pemimpin) perkebunan lada mengumpulkan lada untuk diekspor dan hasilnya untuk membangun pasukan bersenjata dan membuat benteng pertahanan.

Sulaiman menguraikan, pada 1861 Belanda menyerang Pulau Weh. Meski kehilangan banyak pejuang, warga Weh bisa menghalau pasukan Belanda hingga ke Pulau Beras. Perlawanan terhadap pendudukan Belanda di daratan sama sengitnya.

Teuku Umar beserta Cut Nyak Dien memimpin perlawanan rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda. Secara sepihak, Belanda menyatakan menaklukkan Aceh meski di lapangan tak pernah terjadi.

Kemudian pada zaman kemerdekaan, sumbangan berupa puluhan kilogram emas dari rakyat Aceh untuk membeli pesawat Dakota DC-3 (Dakota RI-001 Seulawah) membuktikan nasionalisme Aceh terhadap Indonesia. Hal yang sama disumbangkan Radio Rimba Raya di Timang Gajah, Bener Meriah.

Daya tarik Sabang terletak pada keindahan alamnya. Hampir semua wisatawan, terutama backpacker, menyerbu pantai di wilayah barat pulau ini. Kawasan pantai barat Pulau Weh—22 kilometer dari pusat kota—yaitu Gapang dan Iboih, adalah lokasi diving, dengan taman laut dan terumbu karang indah.

Losmen dan hotel tersedia dengan tarif Rp 75.000-Rp 250.000 per malam.

Turis-turis lokal biasanya datang pada akhir pekan. Minggu sore atau Senin pagi mereka kembali ke Banda Aceh untuk bekerja. Namun, turis asing umumnya tinggal lebih lama dan mereka seperti tak kenal waktu...(kompas.com)

Kamis, 19 Agustus 2010

PULAU JEMUR, PULAU INDAH DIPERBATASAN




Pulau Jemur, mungkin nama ini asing ditelinga. Namun kedudukan pulau ini sangat strategis, karena sebagai pulau terluar Indonesia yang sangat dekat dengan negara tetangga. Malaysia. Pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Letaknya sekitar 72,4 km dari Bagan Siapi-api dan 64,3 km dari Pelabuhan Klang di Malaysia.Dan pulau ini tidak banyak penghuninya, karena memang tempat ini hanya sebagai tempat berlindung bagi para nelayan dari gelombang Selat Malaka di saat datangnya musim angin barat laut. Setelah gelombang laut mengecil atau badai berkurang para nelayan baru keluar untuk memulai aktivitas menangkap ikan kembali. Karena dekatnya dengna Malaysia, maka pulau ini juga berfuingsi sebagai pulau batas tertorial Indonesia yang berbatasan langsung dengan malaysia. Jadi tidak heran jika terlihat puluhan personel Angkatan Laut selalu bersiaga di tempat ini.
Pulau Jemur sebenarnya adalah gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau yaitu pulau Tokong Emas, Sarang Elang, Labuhan Bilik, Pertandang, Batu Adang, Jomo, Bebueh, Batu Berlayar, dan Batu Mandi. Pantai di Pulau Jemur ini landai dan warnai air lautnya sangat biru.Karena memiliki pemandangan dan panorama yang indah, banyak negara tetangga Indonesia ingin memiliki pulau ini sebagai daerah tujuan wisata. Untung saja, pemerintah Indonesia menyiapkan pasukan pengaman agar tidak terlepas dari wilayah Indonesia.Selain itu Pulau Jemur juga memiliki potensi wisata lainnya seperti Menara Suar, bekas tapak kaki manusia, perigi tulang, sisa-sisa pertahanan Jepang, batu Panglima Layar, Taman Laut dan pantai berpasir kuning emas.

Penyu

Kekayaan lainnya dari Pulau Jemur adalah hasil lautnya, khususnya penyu-penyu yang biasa naik ke pantai dan bertelur. Penyu-penyu tersebut menyimpan telurnya di bawah lapisan pasir pantai. Hewan yang tergolong langka ini dapat bertelur 100 sampai 150 butir setiap ekornya. Karena itulah, di pulau ini akhirnya juga dilakukan pengembangan dan penangkaran penyu yang terbukti menjamin kehidupan penyu jauh lebih baik.Penangkaran penyu di Pulau Jemur ini merupakan kerja sama antara Bappeda Rokan Hilir, Navigasi dan Angkatan Laut. Dengan diadakan penangkaran, maka kemungkinan hidup anak penyu bisa antara 50 hingga 90 persen.
Jadi kalau berada di pulau ini cukup tenang dan bisa melepaskan kepenatan pikiran. Jadi apa salahnya mampir ke pulau terluar di Indonesia.(Pelbagai sumber)

Selasa, 17 Agustus 2010

KISAR DIREBUT, MERAH PUTIH TERUS BERKIBAR



Sebanyak tiga regu pasukan Marinir RI, menyusup ke Pulau Kisar dan berhasil merebut pulau terluar Maluku itu dari tangan musuh. Dengan menggunakan perahu karet, pasukan marinir menyusup ke jantung pertahanan musuh dan menancapkan bendera merah putih. Ribuan warga perbatasan menyambut kehadiran pasukan marinir dengan suka cita.
Drama perebutan dan penancapan bendera merah putih di salah satu pulau terluar Maluku itu disaksikan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, Pangdam XVI Pattimura Mayjen (TNI) Sy. Hatta, Kapolda Maluku Brigjen Polisi Totoy Herawan Indra, Danlatamal VIII Laksamana I Amri Husaini dan muspida. Ribuan warga perbatasan berdiri di bukit dan pesisir pantai menyambut kedatangan pasukan TNI ini dengan antusias.

Dalam aksinya, pasukan marinir dibekali dengan senjata organik. Pada jarak kurang lebih 50 meter dari bibir pantai, pasukan TNI terjun ke laut dan merayap mendekati bibir pantai. Dengan mengeluarkan tembakan beruntun, mereka merayap di atas pasir dan berlindung di balik dinding karang. Tidak sampai 30 menit, kawasan tersebut dilumpuhkan. Bendera merah putih mini yang terbuat dari baja kemudian diserahkan kepada Gubernur Maluku dan muspida untuk selanjutnya ditancapkan.
Bersamaan dengan penancapan bendera baja ini, pasukan marinir serentak menancapkan bendera merah putih asli di sepanjang bukit. Drama perebutan Kisar dan pemancangan lambang kehormatan negara ini diakhiri dengan penandatanganan prasasti pemancangan bendera oleh Gubernur Maluku. Belasan pasukan berkuda warga perbatasan sudah bersiaga sejak tadi.
Pesta perayaan HUT Proklamsi Kemerdekaan RI ke- 65 di Kisar MBD berlangsung hikmat di bawah terik matahari. Kendati sejumlah peserta upacara terkapar akibat pengaruh mistis yang cukup kuat di daerah terisolir ini, upacara memperingati detik-detik proklamasi RI di daerah perbatasan berjalan mulus. Warga Kisar dan sekitarnya tersanjung dan merasa baru kali ini dihargai sebagai anak bangsa Indonesia.
Lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan secara apik oleh pelajar SMU se- Pulau Kisar dengan iringan marcing banda TNI AD membuat warga larut dalam semangat kemerdekaan. Lapangan Purpura disesaki warga dan berubah menjadi arena kumpul warga. Pesta kemerdekaan berlanjt hingga malam hari.
Menurut warga, baru kali ini mereka merasa dihargai sebagai anak bangsa Indonesia. Selama ini, aku mereka, pemerintah Indonesia terkesan mengabaikan keberadaan mereka. Mereka berharap, setelah ini, nasib mereka akan lebih diperhatikan lagi karena ancaman distintegrasi cukup kuat di daerah perbatasan. (SM)

Senin, 16 Agustus 2010

SILIH DAGOAN SEBELUM BELANJA




ENYA kitu we atuh, engke peuting ku urang didagoan di Dago (baik kalau begitu, nanti malam saya . tunggu di Dago)" kata seorang anak muda yang berbicara di handphone dalam angkot.Janji pertemuan anak muda dan temannya itu seolah mengulang cerita silam ihwal muasal nama kawasan Dago di Bandung. Konon, penamaan kawasan ini berasal dari cerita tentang para petani untuk silih dagoan (saling menunggu) agar mereka berangkat bersama pagi-pagi buta menuju pasar di Kota Bandung untuk belanja. Nah, tempat mereka "silih dagoan" itulah yang kini dikenal dengan nama Dago. Tak jelas benar, tepatnya di mana para petani itu "silih dagoan", mengingat Dago hari ini adalah kawasan di Bandung Utara yang dibelah Jln. Ir. H. Djuanda. Namun, satu hal yang jelas, sampai hari ini Dago merupakan tempat pertemuan. Tentu saja bukan lagi pertemuan para petani yang akan berangkat ke pasar pagi-pagi buta, tetapi pertemuan berbagai ekspresi anak muda, dari mulai gaya hidup, bergaya, sampai pertemuan para pemuka belanja. Bahkan, mereka yang reusep nongkrong berjam-jam di kafe.

Kawasan Dago, terutama sepanjang Jln. ir.H. Djuanda, merupakan jejak panjang wajah perjalanan Kota Bandung. Baik dari konteks penataan mang, gaya hidup, hingga sejarah sosial di dalamnya. Memandang deretan bangunan klasik sepanjang Dago, rasanya tak mungkin melupakan sebuah komunitas arsitek Belanda NIAK (Nederland Indie Arsitecture Krink). Banyak bangunan di situ yang merupakan karya (rancangan) mereka, seperti Mclaine Pont, Schoemaker bersaudara, Gheijsels, dan Al-bers. Seluruhnya itu berpadu dengan rancangan tata ruang yang apik, pepohonan yang sejuk dan berbagai fasilitas umum, dari mulai pendidikan hingga rumah sakit.


JEJAK ini masih kita temukan hingga hari ini. Jejak yang menjelaskan bagaimana pada masanya dulu pemerintah kolonial Hindia-Belanda menjadikan kawasan yang dulu benama Kampung Banong ini sebagai tempat hunian yang eksklusif dalam suasana lingkungan yang paling nyaman. Banyak orang tua masih menyimpan romantisme ihwal Dago pada masa lalu. Rumah-rumah tanpa pagar, trotoar yang ditumbuhi pohon damar, dan jalan khusus untuk orang bersepeda.

Bersama sejarah dan masa lalunya itulah kini Dago masih terus menjadi penanda penting bagi Kota Bandung. Banyak tentunya yang berubah. Rumah-rumah sepanjang Jln. Ir. H. Djuanda kini sudah berpagar tinggi-tinggi. Factory outlet, bank, hotel, mal, kini telah menggantikan vila-vila yang nyaman dan tenang. Dan satu yang lebih penting, Dago kini bukan lagi menjadi kawasan elite dan eksklusif. Bahkan sejak tahun 1970 atau 1980-an, Dago telah berubah menjadi kawasan milik anak-anak muda.

Jika saban Sabtu malam kita biasa melihat anak-anak muda berkumpul, termasuk para klub motor, maka itu telah terjadi sejak era 1970 dan 1980-an. Jln. Ir. H. Djuanda yang lurus dan panjangnya sekitar 2,5 kilometer itu dulu pun sering dijadikan arena balapan motor dan mobil, atau menjadi jalan wajib konvoi klub kendaraan bermotor.

Terlepas dari berbagai perubahan fisik dan sejarah sosialnya yang kini lebih terbuka (bukan lagi kawasan elite esklusif), identitas kawasan Dago hari ini sesungguhnya belumlah beranjak dari kenyataan aura masa lalunya, yakni, sebagai kawasan dengan karakternya yang khas sehinggabertemunya berbagai ekspresi publik. Dari mulai anak-anak muda dengan berbagai trennya, gaya hidup, hingga yang menjadi tempat sebagian orang demi memenuhi berbagai hasrat konsumsinya.
Ir. H. Djuanda yang membelah kawasan Dago, di antara deretan kafe-kafe tenda di tepi jalan. Anak muda itu turut1 sambil berbicara di handphonenya "Urang geus nepi Dago, ku urang didagoan (Saya sudah sampai di Dago, saya menunggu) (PR)

Kamis, 12 Agustus 2010

MESJID PERAHU, KESEJUKAN DI TENGAH HUTAN BETON


Sebuah mesjid tidak harus dibangun dengan struktur kubah, namun juga dengan variasi lain, yang penting adalah fungsinya. Fungsi mesjid selain untuk beribadah juga tempat menjalin silahturahi sesama umat Islam.Seperti Masjid Agung Al-Munada Darrossalam Baiturrohman atau lebih akrab dengan nama Masjid Perahu. Karena di samping masjid itu terdapat bangunan beton yang menggambarkan sebuah perahu raksasa. Bangunan berbentuk perahu tersebut difungsikan sebagai tempat wudhu untuk kaum muslimat, sementara untuk kaum muslimin berada pada sisi yang berbeda. Letak mesjid yang luasnya 2000 meter ini diantara hutan beton Jakarta. tepatnya terapit dua bangunan megah Apartemen Casablanca yang terletak di kawasan Cassablanca, Kuningann, Jakarta Selatan.Dari luar hanya sebuah papan nama, namun setelah masuk ke dalam gang sekitar 15 meter barulah terlihat masjid dengan pepohonan teduh di sekitarnya.Di dalam masjid terdapat empat tiang dari kayu jati yang telah diukir ayat suci al'Quran, dan dinding masjid pun penuh dengan ukiran ayat Al-Qur'an. Sementara tempat serambi imam memimpin shalat adalah batu granit hitam, dan didepan mimbar terdapat sebuah batu mulia yang mirip giok berwarna putih berukuran besar.Di samping ruang utama, ada belasan batu besar yang semuanya mengelilingi sebuah mushaf Alqur'an raksasa yang besarnya 2x1,5 meter dengan ketebalan sekitar 30-an centi. Kulit luarnya terbuat dari kayu jati yang berukir ayat Alqur'an serumit dinding pengimaman.

Simbolisasi
Perahu yang ada di samping Mesjid tersebut merupak sebuah simbol dari perjalanan Nabi Nuh AS yang menyelamatkan ummatnya dengan perahu. Dengan begitu, melalui Mesjid perahu ini bisa menjalin tali silaturahmi antar kaum muslim. Masjid ini didirikan oleh KH Abdurrahman Masum yang memakan waktu selama tujuh tahun.

Masjid Al Munada Darrusalam di Jalan Casablanca RT 03 RW 05 Nomor 38 Menteng Dalam, Jakarta Selatan

Rabu, 11 Agustus 2010

MASJID PERTAMA DI DUNIA YANG MENGGUNAKAN NAMA CHINA




Biasanya Mesjid selalu diberi nama-nama Islam atau bahasa Arab yang selalu mengandung arti tentang kebaikan atau kemuliaan kepada Tuhan. namun di Surabaya, ada sebuah masjid yang diberi nama perpaduan antara Islam dan China, namanya Masjid Muhamamd Cheng Hoo. Masjid yang bernuansa Muslim Tionghoa pertama di Surabaya ini terletak Jalan gading No 2 Ketabang Surabaya atau tak jauh dari Taman Hiburan Remaja.
Kabarnya, di China sendiri tidak ada masjid bernama Masjid Muhammad Cheng Hoo. Sehingga masjid ini diyakni merupakan masjid pertama di dunia yang diberi nama Muhamad Cheng Hoo.
Mesjid ini didominasi warna-warna yang menjadi ciri khas bangsa China seperti warna merah, hijau dan kuning.. Ornamennya sangat ekntal dengan nuansa China jaman tempo dulu. Pintu masuknya berbentuk pagoda, dan terdapat relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab. Disisi kiri kanan bangunan terdapat sebuah bedug sebagai pelengkap sebuah bangunan mesjid.
Namun bedug ini berbeda dengan bedug biasanya, bedug yang ada di mesjid ini lebih menyerupai bedug yang biasa digunakan untuk kesenian barongsai.Walaupun demikian, fungsi bedug disini tetap sama yakni pertanda masuknya waktu shalat, selain dengan lantunan suara muadzin.
Masjid Muhammad Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jama’ah, dan, berdiri diatas tanah seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi. Selain itu memiliki delapan sisi dibagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Maknanya adalah angka 11 untuk ukuran Ka’bah saat baru dibangun, angka 9 melambangkan Wali Songo dan angka 8 melambangkan Pat Kwa (keberuntungan/ kejayaan dalam bahasa Tionghoa).Arsitek bangunan ini adalah Ir Abdul Aziz dari Bojonegoro. Arsitekturnya diilhami dari Mesjid Niu Jie di Beijing, China yang dibangun tahun 996 Masehi. Saklah satu gaya Niu Jie terlihat pada bagian puncak atau atap utama dan mahkota mesjid. Selain juga ada sentuhan Timur Tengah dan budaya lokal, Jawa

Mengenang Laksamana Cheng Hoo
Masjid ini didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pembangunannya baru dilaksanakan 10 Maret 2002 dan baru diresmikan oleh Mentri Agama RI Prof KH Agil Syiraz Almunawar pada tanggal 13 Oktober 2002.
Berdirinya mesjid ini untuk mengenang Cheng Hoo, seorang laksmana asal China yang beragama Islam. Dalam lawatannya ke beberapa negara termasuk Indonesia, Cheng Hoo, bukan saja berdagang tapi juga menjalin persahabatan selain menyebarkan agama Islam.
Selain masjid di bawah yayasan PITI tersebut, di lokasi yang sama, terdapat lembaga pendidikan TK dan TPA. Murid TK di sini tidak semunya bergama Islam, hanya sekitar 10 persen muridnya non muslim. Pokoknya di mesjid ini selain sholat, juga bisa melihat sebuah sejarah dari perjalanan Islam.(dari pelbagai sumber)

Mesjid Cheng Hoo Jalan Gading no 2, Ketabang, Genteng, Surabaya

Selasa, 10 Agustus 2010

HANYA TIGA ORANG ADA DI PULAU LENGKUAS




Jika ditanya berapa banyak penduduk yang ada di Pulau Lengkuas?. jawabnya cukup singkat cuma tiga orang. Mereka adalah operator Mercusuar. Setiap hari tugas ' penduduk 'ini mengawasi pulau yang luasnya sekitar satu hektar.Kendati persediaan iar terbatas, namun penjaga pulau ini sangat menikmati pekerjaannya. Karena memang hampir setiap hare bertemu orang banyak. Artinya banyak pelancong yang datang kesini.Selain menimmati pemandangan yang indah dari puncak mercusuar, juga keindahan pantainya. Air lautnya benar-benar jernih, anda bisa dengan jelas melihat ke dasar laut termasuk ikan-ikan yang berenang didalamnya. Ini adalah tempat yang menyenangkan untuk bermain di air laut atau snorkling. Di seputar pulau ada banyak pulau batu-batu granit yang bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki melintasi laut yang dangkal dengan kedalaman kurang dari 1.2m. Struktur batu-batu granitnya juga unik dan berbeda dengan tempat-tempat lain dengan kombinasi pantai yang berpasir putih dan pepohonan.

Perjalanan

Lengkuas bisa dicapai dengan menyewa perahu dari Tanjung Binga. Harga sewa kira-kira Rp 350 ribu untuk sekali perjalanan yang biasanya menghabiskan waktu setengah hari. Lama perjalanan dari pantai di Belitung ke Lengkuas hanya kira-kira 30-45 menit. Perahu sewaan tersebut bisa membawa 30-40 orang dan ini adalah perahu nelayan yang biasanya digunakan untuk mencari ikan pada malam hari. Perahu ini cukup unik, dimana terdapat rangka di kedua sisi perahu yang membuat perahu ini menjadi stabil meskipun berlayar di ombak yang cukup besar.Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Lengkuas adalah bulan Maret - November. Selama masa ini ombak laut cendrung lebih tenang, sehingga anda bisa menikmati perjalanan dengan perahu, snorkling dan berenang di perairan yang jernih seperti terlihat dari foto-fotonya. Selama masa Desember - Januari, ombak mungkin lebih besar dari biasanya, dan kadangkala hujan sepanjang hari.

PULAU LENGKUAS, PULAU EKSOTIS YANG TENANG




DI sekitar Pulau Belitung bertebaran pulau-pulau kecil yang cantik mempesona. Sejumlah pulau yang dikelilingi taman karang bawah laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi obyek wisata bahari yang bakal memikat hati banyak wisatawan.
Pulau Lengkuas adalah salah satu pulau kecil di Belitung yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Turis dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara menjadikan Pulau Lengkuas sebagai salah satu destinasi utama dalam kunjungan mereka ke Belitung.

Untuk menjangkau pulau dengan luas sekitar satu hektar ini, pengunjung bisa menempuh perjalanan laut hanya dalam waktu sekitar 20 menit menggunakan perahu motor dari Desa Nelayan Tanjungbinga Kecamatan Sijuk atau 30 menit dari Pantai Wisata Tanjungkelayang.

Dalam perjalanan ke Pulau Lengkuas, perahu akan melewati beberapa pulau seperti Pulau Burung, Pulau Babi dan beberapa pulau kecil lainnya.

Saat perahu mulai mendekati pantai Pulau Lengkuas, pengunjung dapat menikmati taman karang bawah laut yang indah dengan ikan-ikan karang yang hidup di dalamnya. Pemandangan bawah laut ini bisa jelas terlihat berkat perairan yang sangat jernih.

Yang tak kalah menarik, di pulau yang memiliki pasir putih dan jajaran batu granit terdapat bangunan mercusuar yang menjulang tinggi.

Kondisi Mercusuar buatan Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1882 terbuat dari baja setinggi 60 meter serta bangunan bersejarah setinggi 18 lantai ini belakangan semakin tak terawat dengan baik. Beberapa bagian bangunan mulai dimakan karat sehingga orang harus hati-hati bila berniat naik ke atas.

Sementara itu bangunan untuk tempat tinggal penjaga mercusuar yang berbentuk segi empat mengelilingi mercusuar, sudah banyak bagiannya yang rusak. Dari 14 ruangan yang tersedia, hanya dua ruangan yang masih bisa digunakan. Sedangkan 12 ruangan lain atapnya sudah ambruk atau bocor jika diguyur hujan.

“Renovasi bangunan ini terakhir tahun 1969. Sampai saat ini belum dilakukan renovasi lagi. Makanya sudah banyak bangunannya yang rusak,” ujar Tasmin (55), penjaga mercusuar Pulau Lengkuas
Tidak hanya bangunan yang rusak, fasilitas lain pun sangat minim. Fasilitas toilet dan tempat bilas bagi pengunjung yang datang tidak ada. Dapur milik penjaga mercusuar masih menggunakan tungku tradisional berbahan bakar kayu.

“Tidak ada hiburan di sini. TV tidak ada. Toilet dan sumur sampai sekarang juga tidak ada. Kalau mau buang air ya ke belakang sana,” kata Tasmin.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bangka Belitung, Tellie Gozelie, sempat mengungkapkan keprihatinnya terhadap kondisi Pulau Lengkuas.

Tellie yang berkunjung ke pulau ini pekan lalu berharap Pemkab Belitung bisa memberi perhatian lebih besar terhadap upaya perbaikan bangunan dan penyediaan fasilitas seperti toilet dan sumur di pulau yang menjadi ikon wisata Belitung ini. Apalagi, berdasarkan informasi penjaga marcusuar, setiap hari banyak turis yang datang melancong ke Pulau Lengkuas.

“Pulau Lengkuas merupakan salah satu ikon pariwisata yang dibanggakan Pemkab Belitung. Mercusuar merupakan asset Ditjen Perhubungan Laut, sehingga pemkab untuk memperbaikinya terbentur birokrasi. Namun Pulau Lengkuas sangat eksotik dan cukup dikenal luas di luar Pulau Belitung, sehingga tidak ada salahnya pemda memperbaikinya. Setidaknya sediakanlah toilet yang memadai. Jadi bila ada wisatawan datang, mereka merasa lebih nyaman,” kata Tellie menyampaikan sarannya.

Menurut Tellie, pemerintah daerag bisa melakukan koordinasi dengan Ditjen Perhubungan Laut untuk membuat bangunan di sekitar mercusuar yang bisa dimanfaatkan menjadi tempat menginap bagi wisatawan yang suka dengan petualangan alam. Para wisatawan ini pada malam hari bisa diajak melihat proses penyu bertelur atau menikmati keindahan alam sekitar pulau di malam hari.

“Potensi pulau ini sangat luar biasa. Ada mercusuar peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1882. Namun beberapa bagian mercusuar ini harus dipoles, sehingga pengunjung bisa naik keatas. Apalagi bagi mereka yang suka dengan fotografi,” katanya.

Tellie mengingatkan, kebangkitkan pariwisata daerah tidah harus dimulai dengan penanaman modal besar-besaran. Kebangkitan pariwisata Belitung bisa dimulai dari hal yang sederhana, antara lain meningkatkan potensi Pulau Lengkuas yang sudah dikenal luas wisatawan berbagai daereah dan mancanegara.

“Beberapa waktu lalu saat saya makan malam dengan beberapa duta besar pada acara DPD RI, saya banyak membagikan brosur kepada duta-duta besar negara sahabat. Negitu melihat mercusuar di Pulau Lengkuas, laut dan pantai yang indah, mereka bertanya itu dimana? Saya bilang itu di Belitung,” katanya.

Tellie mengatakan, wisatawan yang datang ke Belitung akan kecewa jika menemukan kondisi Pulau Lengkuas jauh dari apa yang dipromosikan pemerintah daerah. (pos Belitung)

Senin, 09 Agustus 2010

RIBUAN GADIS SIAP DILAMAR DALAM FESTIVAL WAKATOBI




Sebanyak 12 kapal lagi dari 146 kapal mewah dari berbagai negara Eropa, Amerika dan Australia, Minggu tiba di Wakatobi, untuk meramaikan Festival Budaya Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara yang dimulai 13 Agustus.

"Sabtu kemarin, delapan kapal mewah yang lego jangkar di Wakatobi. Minggu siang ini, sudah 12 kapal lagi yang sudah berlabuh, sehingga jumlah kapan mewah yang sudah berlabuh mencapai 20 kapal," kata Bupati Wakatobi, Hugua
Menurut Bupati, 12 kapal yang tiba Minggu siang, menyeberang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Semula kapal-kapal tersebut akan mengikuti Sail Banda di Halmahera, Maluku Utara, namun karena cuaca tidak mendukung, mereka tidak meneruskan perjalanan ke Banda, tetapi singgah di Wakatobi.

Menurut keterangan dari salah satu penumpang kapal mewah berkebangsaan Amerika, masih ada sekitar 40 kapal yang akan menyeberang dari NTT, tidak lagi ikut ke Sail Banda.

Sedangkan kapal mewah peserta Sail Banda yang berjumlah sekitar 50 kapal, secara bertahap masuk Wakatobi dan diperkirakan seluruhnya akan tiba di Wakatobi pada 16 Agustus.

Malam 16 Agustus, seluruh peserta sail akan dijamu makan malam oleh Bupati Wakatobi dan pada saat itu akan disuguhkan berbagai jenis makanan tradisional khas Wakatobi seperti Kasuami Pepedan umbi-umbian, katanya.

Selain menyelam, selama berada di Wakatobi para penumpang kapal yatch akan disuguhi berbagai antraksi budaya seperti Karia, Kabuenga, dan berbagai tradisi lainnya.

Khusus tradisi Karia, tradisi keluarga masyarakat Wakatobi mengumumkan anak-anak gadis mereka yang sudah memasuki usia akil balik dan sudah siap dilamar, akan diikuti sebanyak 10.000-an peserta yang berasal dari berbagai pelosok di Wakatobi.

Festival budaya ini benar-benar merupakan hajatan masyarakat Wakatobi dalam menyambut para penumpang kapal akan menyelam di perairan laut Wakatobi. Festival ini boleh dibilang pesta rakyat, katanya.

Menurut Bupati, peserta Sail dari 40 negara akan mengibarkan bendera merah putih di dasar laut pada kedalaman 20 meter.

"Pengibar bendera hanya dibatasi 60 peserta Sail dan dilaksanakan setelah selesai upacara HUT Proklamasi di Istana Negara, Jakarta," katanya. (Antara)

Kamis, 05 Agustus 2010

BENDERA MERAH PUTIH DIKIBARKAN DI PULAU KISAR



Bendera RI Merah Putih dikibarkan di Pulau Kisar, Maluku Tenggara Barat, salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Pengibaran bendera merah putih ini sebagai bentuk pengukuhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menjadi bagian dari ke giatan Sail Banda 2010

"TNI AL bersama-sama dengan pemerintah daerah serta Polda setempat dan organisasi masyarakat, pramuka, dan para pemuda akan melaksanakan upacara bendera pada 17 Agustus mendatang dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI," ujar Kepala Dinas Potensi Maritim TNI Angkatan Laut yang juga Wakil Ketua Pelaksana Bhakti Sosial Sail Banda 2010, Laksamana Pertama TNI Surya Wiranto

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Kordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakorsurta-nal), Pulau Kisar merupakan salah satu dari 92 pulau terluar Indonesia di Maluku yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 78/2005, kini tidak lagi terisolir setelah bertahun-tahun terlupakan dan sulit terjangkau.

Meski demikian, wilayah maritim Pulau Kisar masih menyisakan sengketa antamelayan Indonesia dengan nelayan Timor Leste. Perbatasan maritim Kisar dan Timor Leste belum terdapat titik dasar dan titik referensi. Akibatnya, nelayan Timor Leste sering menyerobot dan menangkap ikan di perairan Kisar.

"Jajaran TNI AL tetap konsisten untuk menjaga keutuhan NKRI di wilayah-wilayah perbatasan yang di dalamnya termasuk Pulau Kisar," ujar Surya. Penduduk Pulau Kisar relatif sedikit. Namun begitu, pulau ini menyimpan potensi pesona wisata, seperti situs sejarah peninggalan masa penjajahan Belanda.

Sebelum pelaksanaan pengibaran kembali Merah Putih, dikatakan Surya, TNI Al. bersama-sama pe-meriniah pusat melalui lintas kordinasi kementeri-an dan lembaga tinggi negara, BUMN serta Pemda Maluku melaksanakan kegiatan bakti sosial atau Surya Baskara Jaya (SBJ) di wilayah Maluku dan Maluku Utara, Maluku Tenggara, termasuk Pulau Kisar, mulai 27 Juli - 6 Agustus 2010. Misalnya, pengobatan gratis, pembangunan infrastruktur jalan, pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial, bela negara, pentas buda-ya dan seni.

Selain itu, ditambahkan Surya, Sail Banda akan diisi dengan seminar internasional, kejurnas layar natsepa yang diikuti 220 perserta dari 22 negara serta akan diisi atraksi pesawat tempur Sukhoi TNI AU. "Selama dua bulan kegiatan Sail Banda, kita akan melaksanakan SBJ di daerah Maluku dan Maluku Utartu" ujarnya

Sebanyak 18 Kementerian akan terlibat dalam SBJ, diantaranya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, Kementerian Parawisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Koperasi, Kementerian Perindustrian, Kementrian Perdagangan, Kemnetrian Pertanian dan sejumlah Badan Usaha Milik Negara dan lembaga tinggi negara.(SK)

PULAU KISAR, PULAU TERLUAR INDONESIA YANG INDAH



Tak banyak orang mengenal Pulau Kisar. Memang pulau ini kecil dan letaknya di Kabupaten Maluku Barat Daya, dan termasuk salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Begitu dekatnya dengan Timor Leste, begitu ada kabar Ramos Hosta datang ke pulau ini, jadi bahan berita. Seolah-olah negara Timor leste ingin mencaplok pulau ini.Kendati tak begitu luas. karena luasnya hanya 75 kilometer persegi, namun pulau ini mempunyai pantai yang indah dan diberi nama Pantai Nama. Keistimewaan pantai Nama adalah .bisa membeli ikan segar di sana dan bisa langsung dibakar dan disantap bersama-sama. Wah yang jelas nikmat sekali. Pantai Nama ini sendiri cukup indah, ada suasana kesegaran tersendiri disini. Debur ombak yang pelan-pelan namun menyejukan hati. Selain itu di pulau ini tumbuh jeruk yang rasanya manis dan segar. Konon kabarnya jeruk ini hanya ada di Pulau ini saja.Secara cuaca.pulau ini memang cenderung cukup panas, tapi pemandangan dengan banyak pohon-pohon aren maupun pohon-pohon lainnya di kiri dan kanan, membuat pulau ini nampak hijau. Tetapi bila tiba musim kemarau maka semua pohon menjadi layu dan nampak gersang sekali. Jalanan beraspal yang naik turun adalah pemandangan di pulau ini. Penghuninya tidak banyak, diperkirakan ada 4 desa, namun sumber airnya cukup melimpah, karena itu mudah mengambil air melalui sumur bersama yang terdapat di tengah desa.

MENYIMPAN SEJARAH
Pulau terselatan di Maluku, cukup banyak menyimpan sejarah. Belanda pernah mendirikan kantor administrasi sebagai basis pengambilan rempah rempah dari wilayah Pulau Pulau Terselatan lain, seperti Pulau Leti, Pulau Liran, Pulau Meatimiarang, dan Pulau Wetar. Di pulau ini terdapat satu gereja peninggalan Belanda yang kondisinya hancur.Selain itu juga ada beberapa bangunan dengan sentuhan Belanda

BAGAIMANA MENUJU PULAU INI?

Sekarang bagaimana caranya mencapai Pulaui Kisar ? Pertama, harus terlebih dahulu sampai ke Bandara Pattimura, Ambon dan baru dari sana Anda menaiki pesawat Merpati kecil ke pulau Kisar yang bisa memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Masalahnya, pesawat kecil ini hanya ada pada hari-hari tertentu, jadi harus jauh-jauh hari booking tiket terlebih dulu. Selain itu kapasitas pesawat juga terbatas, hanya untuk 20 orang. Harga tiket pesawatnya berkisar Rp 350.000 sudah termasuk airport tax.Dari Bandara Kisar, tidak ada taksi, yang ada hanya ojek, dengan ongkos sekitar
Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu perorang atau sewa mobil menuju tempat tujuan. Untuk mencapai kota Wonreli , sebagai ibukota dari pulau Kisar membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sedangkan untuk mencapai pantainya yang cantik, yang bernama Pantai Nama, perlu waktu sekitar 15 menit.

PULAU MENGKUDU DAN PULAU DANA BISA DICAPLOK AUSTRALIA




Pulau Mengkudu yang terletak nun jauh dari Pulau Sumba bagian timur serta Pulau Dana di sekitar Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) bisa dicaplok Australia sebagai bagian dari teritorinya, karena di kedua pulau itu sudah ditempati oleh bule Australia.

Dalam konteks hukum laut internasional, sebuah wilayah atau kepulauan dapat menjadi bagian dari teritori sebuah negara jika dikelola secara efektif oleh warga negaranya, meski membutuhkan proses yang lama untuk memilikinya secara permanen.

"Jika kita lengah dalam menerapkan hukum nasional di perbatasan, tidak tertutup kemungkinan kedua pulau itu menjadi miliknya Australia. Eksistensi warga negara Australia di kedua pulau itu sudah menjadi bekal awal bagi mereka untuk mengusai pulau tersebut secara efektif," kata pengamat hukum laut internasional, DR Marnixon RC Willa SH.MHum

Dosen pada Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang mengemukakan pandangannya tersebut berkaitan dengan keberadaan warga negara Australia di kedua pulau itu.

Sebelumnya, dalam dengar pendapat dengan Gabungan Komisi DPRD NTT, Komandan Korem (Danrem) 161/Wirasakti Kupang, Kol Inf APJ Noch Bola mengungkapkan bahwa warga negara Australia yang menghuni Pulau Mengkudu itu telah membangun sebuah resort untuk kebutuhan wisatawan asing.

Penduduk asli Pulau Sumba, kata dia, malah dilarang memasuki pulau tersebut setelah yang bersangkutan mengantongi surat izin tinggal dari seorang kepala suku di Pulau Sumba bagian timur.

Sementara di Pulau Dana, dekat Pulau Rote Ndao yang lebih menjorok ke Laut Timor, juga ditempati Mr David, seorang warga negara Australia setelah menikahi seorang gadis, anak kepala desa setempat.

Secara terpisah, Sekretaris Komisi Perantara Perbatasan (Boorder Leaison Committe) NTT-Timor Timur, Ir MT Wayana Darmawa mengungkapkan, dari 566 pulau yang dimiliki NTT, tercatat 524 pulau di antaranya belum
berpenghuni atau tidak bertuan.

"Hanya 42 dari 566 pulau yang ada, yang sudah berpenghuni," katanya dan menambahkan bahwa dari 566 pulau yang ada, 246 pulau di antaranya sudah diberi nama, sedang 320 pulau sisanya belum bernama.

Ia menambahkan, pulau-pulau yang sudah bernama itu, tercatat lima pulau di antaranya berada di kawasan terluar Indonesia, yakni Pulau Batek dan Pulau Raijua di Kabupaten Kupang, Pulau Mengkudu dan Salura di Kabupaten Sumba Timur serta Pulau Dana di Kabupaten Rote Ndao.

HUKUM PERBATASAN

Marnixon Willa mengatakan, guna mempertahankan eksistensi pulau-pulau terluar sebagai bagian dari wilayah NKRI, sudah saatnya bagi pemerintah Indonesia untuk menerapkan hukum nasional di perbatasan, berupa penetapan batas wilayah negara secara permanen dengan negara tetangga.

"Kita harus segera rundingkan batas wilayah laut, darat dan udara secara permanen dengan negara tetangga kita, seperti Australia dan Timor Timur. Jika pemerintah mengabaikan terus soal batas wilayah negara di selatan Indonesia maka tidak tertutup kemungkinan Pulau Mengkudu, Dana dan Pulau Batek jadi miliknya Australia dan Timtim," katanya.

Ia menjelaskan, eksistensi warga negara Australia di Pulau Mengkudu dan Pulau Dana itu merupakan investasi yang baik bagi mereka untuk menguasai dua pulau kecil itu secara efektif dan permanen.

"Jika kita tidak cegah dan meminta mereka tinggalkan pulau itu, maka berdasarkan ketentuan hukum internasional, pulau itu bisa menjadi bagian dari teritori Australia karena warga negaranya telah menguasai secara efektif wilayah tersebut," kata Marnixon.

Karena itu, menurut dia, agar kedua pulau itu tetap menjadi bagian dari pulau-pulau terluar di NTT maka pihak imigrasi segera mengambil tindakan keimigrasian untuk mendeportasi warga negara Australia yang ada di Pulau Mengkudu dan Pulau Dana, karena hanya mengantongi izin tinggal dari kepala suku setempat. (Antara)

Selasa, 03 Agustus 2010

HARI JADI BIKERS BROTHERHOOD MARAK EUY!



GERUNGAN mesin sepeda motor terdengar nyaring memecah kepenatan di Jln. Braga, Bandung. Ratusan sepeda motor besar menghiasi hampir sepanjang jalan. Kemeriahan sorak sorai pun terdengar dari para bikers. Wajar hal itu terjadi karena siang itu merupakan hari ulang tahun ke-22 Bikers Brotherhood Mother Chapter (BBMC) dengan tajuk "Never 2 Old 2 Rock 'n Roll".

Kegiatan ini berlangsung meriah dengan melibatkan sekitar 5.000 bikers yang ada di tanah air. Beberapa bikers di antaranya datang dari luar negeri. Berbagai motor besar pun menghiasi sepanjang Jln. Braga. Tidak terkecuali motor-motor besar antik.

Diungkapkan El Presidente BBMC, Budi Dalton, acara ulang tahun kali ini berbeda dari sebelumnya. BBMC mengusung tajuk Never 2 OLD 2 Rock 'n Roll. Tajuk ini memiliki nilai sangat sakral bagi BBMC. "Angka 22 ini memiliki nilai yang sakral bagi kita, yaitu BBMC terus makin berjaya," terangnya usai pembukaan acara, Sabtu (31/7).

Budi Dalton memaparkan, ultah BBMC ke-22 seharusnya jatuh pada tanggal 13 Juli 2010. Namun, perayaannya baru dilaksanakan kali ini dimaksudkan untuk lebih mempererat tali persaudaraan sesama bikers.

"Perayaan ini dihadiri oleh sekitar 5.000 bikers dari seluruh tanah air, seperti Bandung, Jakarta, Kalimantan, Lampung, dan Bali. Para bikers dari luar negeri pun datang ke sini ikut merayakan. Dua bikers dari Australia, Malaysia (30 motor), dan Singapura (12 motor)," katanya.

Dikatakan Budi, pada momen kali ini BBMC memberikan beberapa penghargaan kepada para tokoh yang telah memberikan kontribusi nyata kepada Kota Bandung. BBMC sendiri memiliki 5 program khusus yang diberi nama Bandung for Indonesia. Seperti Bandung for Kondusif, untuk menjaga kekondusifan di Kota Bandung, Bandung for Education yang bergerak di bidang pengembangan pendidikan, Bandung for Nature bergerak di bidang lingkungan alam, Bandung for Culture di bidang kelestarian budaya, dan Bandung for Care yang bergerak dalam sosial.

"Kita pun sedang menyusun kegiatan sosial Bandung for Heritage, yaitu ikut menjaga gedung-gedung bersejarah yang ada di kota Bandung," urainya.

Sementara itu, kepala koordianator Bike Contest, Mastom mengatakan, pelaksanaan bike contest mengusung konsep baru. Sebelumnya, bike contest hanya menggelar best original dan best costum. Kali ini ada warna baru, yaitu bike attitude. Pada konsep yang sekarang ini fokus pada ikatan batin atau keserasian antara kharakter sepeda motor dan pengendaranya. (GM)